26.3 C
Jayapura
Wed, 05 Aug 2026

Mengapa Masyarakat Katolik di Pesisir Mimika Menyebut Hj. Rampeani Rachman “Mutiara Toleransi”?

Breaking News

——

 “Bagi kami, beliau tidak melihat warna kulit atau agama. Saat kami memerlukan bantuan, beliau orang pertama yang mengulurkan tangan. Beliau benar-benar mutiara bagi kami.”

 DERU MESIN johnson memecah keheningan sungai pesisir Mimika Timur siang itu. Air sungai yang sedikit bergelombang sesekali menciprat, membasahi lambung perahu yang melaju membelah jalinan rimbun pepohonan di sepanjang tepian. Di dalam salah satu perahu, duduk seorang wanita berkacamata hitam. Sesekali ia membetulkan letak kacamatanya, sementara matanya lekat menatap layar ponsel, mencermati kembali foto-foto kegiatan reses di tengah akar rumput.

Perempuan berhijab itu adalah Hj. Rampeani Rachman, S.Pd. Di balik kemeja dinas Anggota DPRK Mimika yang dikenakannya, ada sebuah identitas yang ia jaga lebih erat dari jabatan politiknya sendiri. Sebuah tanda pengenal di dadanya tidak menuliskan gelarnya sendiri, melainkan nama almarhum sang ayah: Dato H. Abdurraman Tanri Bone Bin Daeng Gassing Bin Mallajani ’RR’.

Bagi Rampeani, nama itu bukan sekadar penghormatan, melainkan kompas moral yang membisikkan bahwa amanah rakyat di bumi Papua harus dipikul dengan ketulusan seorang anak yang menjaga kehormatan orang tuanya. Di bawah terik Mimika yang menyengat, paduan celana hitam dan jilbabnya mulai basah oleh peluh, tetapi langkahnya tidak melambat untuk menembus batas pesisir.

Perjalanan ini bukanlah perjalanan yang singkat. Sekitar pukul 14.00 WIT hari itu, rombongan bergerak dari kediaman pribadinya di Kaugapu, Mapurujaya, menuju Pelabuhan Pomako, sebelum akhirnya bertaruh nasib mengarungi lautan dengan dua buah johnson menuju Kampung Mioko di Distrik Mimika Tengah.

Menyusuri Sungai Kamora sejauh 35 kilometer itu penuh tantangan. Di atas riak air, rombongan harus menghabiskan waktu sekitar 90 menit yang menguras stamina. Sepanjang rute, mesin johnson yang ditumpangi beberapa kali sempat mogok di tengah kepungan pepohonan yang memagari kiri dan kanan sungai. Namun, hambatan itu tak sedikit pun menyurutkan langkah sang Srikandi Partai Perindo ini.

Anggota DPRK Mimika, Hj. Rampeani Rachman, S.Pd saat tiba dan disambut warga Kampung Mioko, Sabtu (11/7/2026). (Foto: PapuaNet.com)

Ketika haluan perahu akhirnya menyentuh Tambatan Perahu Kampung Mioko, kelelahan itu luruh seketika. Masyarakat telah berdiri di tepian, menyambut kehadirannya dengan sorak-sorai kemeriahan yang begitu hangat. Langkah kakinya mantap menuju tempat tujuan utamanya: Gereja Katolik Stasi Santo Blasius Mioko.

Di dalam rumah ibadah yang teduh itu, Rampeani menyerahkan satu set pengeras suara. Bagi umat Katolik Stasi Santo Blasius, benda itu bukan sekadar perangkat elektronik, melainkan penyambung lidah doa untuk menyambut momen suci Sakramen Krisma dan nikah massal yang kian dekat.

Di altar itulah, sekat perbedaan luruh. Ketulusan seorang Muslimah hadir untuk menggemakan kidung pujian umat Katolik di pedalaman. Ketulusan tanpa sekat inilah yang membuat masyarakat setempat menyematkan julukan penuh hormat di pundaknya: “Mutiara Toleransi.”

 Benih yang Tumbuh di Lumpur Asmat

JIWA TOLERANSI yang melekat pada diri Rampeani tidak tumbuh secara instan. Akar dari segala ketulusannya tertanam kuat jauh di selatan Papua: Agats, sebuah wilayah berlumpur di Kabupaten Asmat. Lahir di Kota Seribu Papan itu, masa kecil Rampeani dihabiskan di bawah asuhan guru-guru di Sekolah Dasar Katolik Agats, sebelum akhirnya ia tumbuh besar di Timika.

Di ruang-ruang kelas kayu itulah, nilai-nilai kemanusiaan universal mulai menyusup ke dalam jiwanya. Ia belajar tentang kasih dan persaudaraan dari lingkungan yang berbeda iman, tanpa sedikit pun menggoyahkan akidah Islam yang dipeluknya.

“Saya sekolah di sekolah Katolik, tetapi saya tidak masuk Katolik,” kenang Rampeani, melempar senyum tipis mengingat masa lalunya.

Kalimat sederhana itu sarat makna mendalam. Sekolah Katolik telah membentuk kedewasaan berpikirnya sejak dini—bahwa menghormati doa orang lain dan menopang rumah ibadah sesama tidak akan pernah melunturkan keteguhan akidahnya sebagai seorang Muslimah. Baginya, kebaikan tidak pernah mempertanyakan apa agamamu. Memori masa kecil untuk membalas budi baik guru-guru Katoliknya dulu, kini telah bertransformasi menjadi bakti tulus bagi masyarakat di pesisir Mimika.

Sejumlah anak sekolah sedang pulang sekolah di pusat kota kelahiran Hj. Rampeani Rachman, S.Pd di Agats, Asmat, Papua Selatan. (Foto: Istimewa)

Karakter luhur Hj. Rampeani Rachman yang melintasi sekat perbedaan ini bukan lahir dari ruang hampa, apalagi sekadar pencitraan politik sesaat. Sang kakak kandung, Rosnia Rachman, membeberkan bahwa watak adiknya memang dibentuk oleh nilai-nilai kemanusiaan yang ditanamkan sejak dini. Di balik ketegasannya sebagai politisi, Rampeani selalu menempatkan empati di atas segalanya.

“Sejak dulu, dia tidak pernah bisa melihat orang lain kesusahan tanpa memandang latar belakang mereka. Nilai itulah yang terus dia bawa hingga hari ini saat dipercaya mengemban amanah rakyat,” ungkap Rosnia.

Di balik ketangguhan Rampeani menerjang ombak pesisir, ada keikhlasan yang senyap di sudut rumahnya. Sang suami, H. Suwarto, adalah saksi bahwa sang istri sering kali menepikan lelah demi menjawab panggilan kemanusiaan warga kampung. Bagi Suwarto, restu yang ia berikan setiap kali istrinya berpamitan naik perahu johnson bukan lagi sekadar dukungan domestik, melainkan bentuk keikhlasan keluarga untuk mewakafkan waktu Rampeani bagi masyarakat pesisir Mimika yang membutuhkan.

Lentera Iman dari Seberang Sungai

KEHADIRAN PERANGKAT pengeras suara baru itu laksana oase di tengah sunyinya Gereja Katolik Stasi Santo Blasius Mioko. Di dalam rumah ibadah yang bersahaja itu, sekat-sekat formalitas luruh. Tidak ada lagi sekat politik maupun perbedaan keyakinan; yang tersisa hanyalah ketulusan yang saling bertatap muka.

Rampeani menatap wajah-wajah umat yang berseri dengan mata berkaca-kaca. Bagi perempuan berhijab ini, pemandangan di depan altar tersebut adalah jawaban atas janji yang ia bawa menembus ombak.

“Saya hanya ingin suara doa-doa di gereja ini terdengar lebih lantang dan indah,” ujar Rampeani pelan, suaranya sedikit bergetar menahan haru. “Sebab bagi saya, mendukung peribadatan sesama adalah merawat rumah besar kemanusiaan kita.”

Rampeani memahami betul bahwa ritual rohani ini adalah napas hidup warga pesisir. Di dalam gereja, suaranya terdengar lembut namun tegas mengatasi riuh rendah ruang peribadatan. “Ini tentang sukacita iman yang tumbuh tanpa sekat,” ucapnya, yang seketika disambut riuh tepuk tangan warga yang memenuhi ruangan.

Bagi perempuan berhijab ini, pelayanan tidak boleh setengah hati. Ia tahu, sebuah pesta kampung di pedalaman selalu digerakkan oleh kepulan asap dapur umum. Maka, selain membawa pengeras suara ke depan altar, ia juga melangkah ke belakang—memastikan bahan-bahan pangan pokok seperti beras, minyak goreng, dan logistik dapur tersedia agar ketenteraman lambung para mama dan warga yang bersukacita tetap terjaga selama hari perayaan.

Anggota DPRK Mimika, Hj. Rampeani Rachman, S.Pd menyerahkan satu set pengeras suara untuk Gereja Santo Blasius Mioko, yang diterima langsung oleh Kepala Kampung bersama Bendahara Gereja, Sabtu (11/7/2026). (Foto: PapuaNet.com)

Di depan altar, Bendahara Gereja Stasi Santo Blasius Mioko, Herman Atapmame, menatap pengeras suara baru itu dengan mata berkaca-kaca. Nada suaranya bergetar hebat saat mencoba menyampaikan isi hatinya.”Ibu Hj. Rampeani adalah seorang Muslimah, tetapi cintanya kepada kami yang beragama Katolik di Mioko ini begitu tulus,” ujar Herman, menyeka sudut matanya.

Bagi Herman dan seluruh jemaat, kehadiran perempuan berhijab di kampung mereka hari itu bukan sekadar kunjungan pejabat. Ini adalah pelajaran berharga tentang bagaimana merawat persaudaraan.”Beliau tidak melihat perbedaan agama, melainkan melihat kami sebagai saudara sendiri,” tambahnya lirih.

“Kami sama sekali tidak melihat apa warna kulitnya, dari partai mana ia berasal, atau hijab yang beliau kenakan. Kami melihat ketulusan hatinya yang tumpah ruah untuk kami di sini,” timpal salah seorang umat Katolik yang berdiri di sudut ruangan dengan tatapan haru.

Kehangatan itu membekas begitu dalam. Umat Katolik Mioko berjanji akan selalu membawa nama Rampeani dalam setiap untaian doa mereka di depan altar Gereja Santo Blasius. Bagi mereka, kemurahan hati perempuan berhijab itu telah melampaui sekat-sekat formalitas birokrasi. Mereka melayangkan harapan ke langit, memohon agar Tuhan Yang Mahakuasa senantiasa memeluk ketulusan hati Rampeani dengan berkat dan kedamaian yang melimpah.

 Sinergi Tanpa Sekat Keyakinan

DI BALIK balutan hijabnya, legislator Mimika ini membawa senyum yang melunturkan jarak geografis. Langkah konkretnya hari itu langsung memanen apresiasi tinggi dari para tetua adat setempat. Kepala Kampung Mioko, Tobias Natiyaipaku, bersama Sekretaris Kampung, Mikael Waupuru, berdiri mendampinginya setelah ibadat usai.

Bagi mereka, kehadiran perempuan Muslim di tengah mayoritas Umat Katolik pesisir ini adalah potret indah yang nyata. Di sini, kerukunan umat beragama dirawat bukan sekadar lewat slogan manis di podium kota. Toleransi itu mengalir langsung melalui aksi nyata yang menyentuh urat nadi kehidupan warga.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Ibu Anggota Dewan yang selalu membantu kami. Semoga Tuhan melindungi Ibu Dewan dan keluarga serta semua rombongan yang hadir bersama kami di Mioko,” ucap Tobias tulus menatap sang legislator.

Cerita tentang betapa kokohnya jiwa kemanusiaan Hj. Rampeani bukan sebatas pengakuan sepihak dari umat gereja. Di sisi lain, konfirmasi atas ketulusan itu juga disuarakan oleh Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Mimika sekaligus mantan pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Mimika, Ustaz H. Abdul Muthalib Elwahan, S.Pd.

Langkah hangat Anggota DPRK Mimika, Hj. Rampeani Rachman, S.Pd saat berjalan kaki bersama kepala kampung dan warga menuju Gereja Santo Blasius Mioko, Sabtu (11/7/2026). (Foto: PapuaNet.com)

Sehari-hari, Ustaz Abdul Muthalib bahu-membahu dengan Hj. Rampeani di Yayasan Pendidikan Jabal Rahmah Al-Banna untuk mengemban tugas mencerdaskan anak-anak di Mapurujaya, Mimika Timur. Ia dipercaya memimpin sebagai Kepala Sekolah SMP Islam Mapurujaya hingga detik ini. Dari jarak sedekat itu, Ustaz Abdul Muthalib menyaksikan kemurnian hati sang legislator yang disebutnya sulit dicari tandingannya.

“Saya menyebut satu kalimat yaitu meraih prestasi melalui sosok Hajah Rampeani, karena Ibu Hajah telah menunjukkan keharmonisan kehidupan yang luar biasa kepada umat beragama, termasuk salah satunya adalah memberikan bantuan ke rumah ibadah,” ungkap Ketua DMI Mimika tersebut dengan nada takjub.

Ustaz Abdul Muthalib bahkan menjadi saksi mata saat mendampingi perjalanan melelahkan Hj. Rampeani menuju Mioko. Di tempat terpencil itulah, ia melihat bagaimana seorang Muslimah berhijab turun penuh totalitas memenuhi kebutuhan umat Katolik tanpa keraguan sedikit pun.

“Di sana ada tempat ibadah yang beliau campur tangan sebagai seorang manusia yang mencintai manusia, tidak melihat dari sisi agama. Sehingga sebagai anggota dewan, beliau tidak memandang dengan mata sebelah, tapi dari mata beliau sampai ke mata hati,” lanjut Ustaz menggambarkan kepekaan rasa sang tokoh.

Bagi Ustaz Abdul Muthalib, dalam lanskap kebangsaan Indonesia hari ini, nilai persaudaraan sejati yang begitu tulus hanya bisa ia temukan pada tiga tokoh besar. Di bagian barat, ada sosok Dedi Mulyadi, di Maluku Utara ada Sherly Tjoanda, dan di Tanah Papua, khususnya di Mimika, mahkota itu layak disematkan kepada Hj. Rampeani Rachman.

Sifat kedermawanannya bukan sekadar etalase politik demi meraup simpati suara pemilu. Dalam kehidupan sehari-hari, pintu rumah pribadi Hj. Rampeani selalu terbuka bagi siapa saja yang mengetuknya.

“Siapa pun yang datang ke rumahnya diberi makan, disuguhkan dengan tangan sendiri, bahkan diberikan makanan untuk dibawa pulang ke rumah. Terus terang saya bilang, kesimpulannya beliau ini memang tidak tega dan tidak suka melihat orang susah,” ungkapnya.

 Ketukan Kepedulian

KETUKAN KEPEDULIAN Hj. Rampeani Rachman tidak berhenti pada urusan dapur umum atau sekadar bantuan fasilitas gereja. Di seantero pesisir Mimika, ia telah menjelma menjadi tokoh sentral. Perannya kokoh dalam memperkuat toleransi dan merajut harmoni sosial di akar rumput.

Pembuktian itu nyata saat ketegangan memuncak di Kampung Kaugapu beberapa waktu lalu. Ketika aksi pemalangan pohon melumpuhkan jalur vital transportasi, politisi Partai Perindo ini tidak tinggal diam. Ia memilih turun langsung ke pusaran konflik.

Bersama jajaran TNI, Polri, dan Pemerintah Daerah, Hj. Rampeani meredam amarah warga. Ia mengedepankan dialog kekeluargaan yang sejuk serta pendekatan persuasif yang menyentuh hati.

Rekam jejak humanis tersebut kini terus membentang. Mulai dari program Safari Ramadan hingga aksi kemanusiaan lintas iman. Semua ia lakukan secara konsisten demi menjaga api kerukunan antarumat beragama di Mimika tetap menyala hangat.

Napas toleransi yang hidup subur di wilayah pesisir ini pun diamini oleh Pastor Paroki Emmanuel Mapurujaya, Romo Agustinus Yerwuan, OFM. Sang Pastor menyampaikan apresiasi mendalam serta ucapan terima kasih kepada umat Muslim dan seluruh pihak yang telah tulus berbagi kasih tanpa sekat agama.

Di tengah suasana penuh kehangatan itu, Romo Agustinus menitipkan pesan kedamaian yang mendalam bagi seluruh masyarakat pesisir Mimika.

“Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati kita semua, dan terus memupuk persaudaraan sejati dalam kehidupan antarumat beragama,” tutur sang Romo penuh berkat.

Wujud toleransi yang indah saat Pastor Paroki Emanuel Mapurujaya, Romo Agustinus Yerwuan, OFM menerima paket daging kurban pemberian Hj. Rampeani Rachman, S.Pd pada momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. (Foto: PapuaNet.com)

Pastor Agustinus Yerwuan menuturkan bahwa hubungan antara umat Kristiani dan Muslim di wilayah Mapurujaya selama ini berjalan sangat baik. Kehidupan membentang penuh rasa hormat demi menjaga keharmonisan sosial.

Menurutnya, toleransi tidak boleh berhenti sebatas sapaan atau simbol semata. Panggilan iman itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang mengangkat harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan.

“Nilai toleransi harus terus dipupuk dalam kehidupan sehari-hari. Kita semua, baik Muslim maupun Kristiani, adalah ciptaan Tuhan yang dipanggil untuk hidup saling menghargai, mengisi, dan menjaga kedamaian bersama,” ucapnya hangat.

Bagi Pastor Agustinus, kedamaian yang hari ini memayungi bumi Mapurujaya bukanlah sesuatu yang tumbuh begitu saja. Ini adalah warisan berharga yang harus dijaga bersama seluruh generasi.

Lewat rajutan benang toleransi yang dirawat oleh pemuka agama dan seluruh elemen warga, Mimika Timur sejatinya mengirimkan pesan kuat kepada dunia: bahwa perbedaan keyakinan bukanlah sekat pemisah, melainkan fondasi kokoh untuk mendirikan rumah bersama yang teduh dan penuh persaudaraan.

 Pesan Damai untuk Indonesia

BAGI SANG anggota dewan, julukan “Mutiara Toleransi” diterima dengan penuh rasa rendah hati. Ia menegaskan bahwa merawat toleransi dan membantu sesama adalah tugas wajib siapa saja, tanpa memandang latar belakang agama maupun golongan.Bantuan pengeras suara ini mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik itu ada pesan mendalam yang bergema kuat: bahwa perbedaan iman bukanlah dinding pemisah, melainkan melodi indah yang saling melengkapi. Dari Pesisir Mimika, sang “Mutiara Toleransi” ini telah mengajarkan kepada kita cara merajut tenun kebangsaan dengan benang kasih sayang yang tulus. (red)

***

- Advertisement -

Pilihan Editor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru

penghargaan nasional