26.4 C
Jayapura
Tue, 22 Sep 2026

Pakai Kamdeda hingga Kamboti, Cara Unik Warga Kei di Timika Galang Donasi Bantu Korban Gempa NTT

Breaking News

TIMIKA, PAPUANET.COM — Menggunakan anyaman khas Kei dari daun kelapa, yakni Kamdeda (baki khas Kei) dan Kamboti (wadah/keranjang khas Kei), menjadi cara unik warga Kei di Timika dalam menggalang donasi untuk membantu korban gempa NTT. Aksi kemanusiaan yang berlangsung di Gereja Katedral Tiga Raja Timika pada Minggu 6 September 2026 ini menyajikan pemandangan yang menyentuh hati. Ribuan masyarakat asal Suku Kei (Nuhu Evav) yang berdomisili di Kota Timika memadati Gereja Katedral Tiga Raja Timika dengan balutan pakaian adat bernuansa merah, kuning, dan ungu yang anggun. Kehadiran mereka adalah untuk mengikuti Misa Inkulturasi Budaya sekaligus menyukseskan aksi solidaritas kemanusiaan tersebut.

Nuansa adat Bumi Larvul Ngabal sangat kental terasa di dalam gereja. Altar dan ruang ibadah dihiasi apik menggunakan janur dan buah kelapa, membawa atmosfer Maluku Tenggara dan Kota Tual ke tanah Mimika. Sepanjang ibadah yang dipimpin oleh Pastor Paroki, Pastor Amandus Rahadat, Pr, dan didampingi Pastor Benyamin S. Magay, Pr ini, lagu-lagu pujian pun mengalun merdu dalam bahasa daerah Kei.

Keunikan tradisi Kei semakin memukau saat memasuki prosesi persembahan liturgi. Para penari yang membawa kipas anyaman daun kelapa membentuk formasi khusus yang anggun menuju altar. Di belakang mereka, umat menghantarkan natura (bahan persembahan) menggunakan Kamdeda (baki khas Kei). Sementara itu, wadah pengumpulan dana kemanusiaan yang diedarkan untuk korban bencana di NTT berupa Kamboti, yaitu keranjang tradisional yang dianyam langsung dari daun kelapa.

Aksi spontan ini tidak hanya diikuti oleh warga Kei, tetapi juga oleh umat Katolik lainnya yang tersentuh melihat wadah tradisional Kamboti diedarkan demi meringankan beban sesama di NTT.

Sukacita dan persaudaraan berlanjut pascamisa. Masyarakat Kei langsung menari Sawat bersama untuk mengantarkan para pastor, perwakilan Dewan Pastoral, serta seluruh umat menuju Aula Paroki guna mengikuti acara ramah tamah.

Dalam momen kebersamaan tersebut, Pastor Amandus Rahadat, Pr mengingatkan pentingnya filosofi Fangnanan (kasih sayang). Beliau berpesan agar masyarakat Kei senantiasa menjaga nama baik suku dan leluhur di mana pun mereka berada.

Pesan senada juga digaungkan oleh Sekretaris IK3M Kabupaten Mimika, Clemens Ohoilulin, yang hadir mewakili Ketua IK3M. “Masyarakat Kei di Mimika harus tetap menjaga persaudaraan, baik ke dalam sesama warga Kei maupun keluar dengan warga lainnya. Mari kita rawat hidup rukun, damai, toleransi, dan harmonisasi di Kabupaten Mimika,” ajaknya.

Rasa syukur dan apresiasi yang mendalam juga disampaikan oleh Ketua Panitia, Toni Leisubun. Ia berterima kasih kepada para pastor, ketua kerukunan ohoi (kampung), serta seluruh masyarakat Kei yang telah memberikan kontribusi materi maupun pikiran demi suksesnya acara ini.

Acara ramah tamah kemudian ditutup dengan momen makan bersama. Umat yang hadir disuguhi berbagai kuliner otentik khas Kei yang menggugah selera, mulai dari enbal bubuhuk, enbal goreng, sinoli, keladi, patatas (ubi jalar), hingga sayur sirsir. Perayaan hari itu tidak hanya mengenyangkan perut dan memanjakan mata dengan budaya, tetapi juga memperkaya jiwa lewat aksi berbagi untuk sesama di NTT.(Namsa A)

- Advertisement -

Pilihan Editor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru

penghargaan nasional