26.3 C
Jayapura
Wed, 05 Aug 2026

Lahir dari Kisah Nyata Tokoh Amungme, TK NangMora Mimika Kini Buka Jalan Emas Pendidikan Usia Dini Gratis bagi Suku Asli Mimika

Breaking News

PAPUANET.COM, TIMIKA – Di tengah permukiman masyarakat Suku Amungme di wilayah Mile 32, Kabupaten Mimika, berdiri sebuah lembaga pendidikan kecil namun bermakna besar. Lembaga tersebut adalah TK NangMora yang dikelola oleh Yayasan Gerbang Terang Timur, yang tepat pada Kamis 23 Juli 2026 hari ini, genap berusia enam tahun.

Sejak didirikan pada tahun 2020, perjalanan sekolah ini bukan sekadar mengajar anak-anak untuk membaca dan berhitung, melainkan perjuangan besar dalam mengubah pola pikir masyarakat setempat tentang pentingnya pendidikan anak usia dini (PAUD).

Lahir dari Kisah Nyata Tokoh Amungme

Salah satu pendiri Yayasan Gerbang Terang Timur, Yohana Ivana Jerisetouw, menceritakan latar belakang berdirinya sekolah ini dengan nada haru saat ditemui jurnalis PapuaNet.com usai peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 di Mimika.

“Berawal dari kisah nyata Bapak Araminus, salah satu tokoh asli Amungme. Beliau baru masuk Sekolah Dasar (SD) saat usianya sudah terlanjur tua, semata-mata karena orang tuanya kala itu tidak mengerti kapan seharusnya seorang anak mulai bersekolah. Kami melihat kesenjangan serupa masih terjadi di tengah masyarakat kita saat ini. Maka pada periode tahun 2019–2020, kami bersama rekan-rekan mendirikan yayasan untuk menjalankan program TK NangMora,” jelas Yohana.

Lanjut Yohana, TK NangMora didirikan khusus untuk anak Amungme. Namun tidak menutup diri untuk anak usia dini dari 6 suku lainnya.

Yohana Ivana Jerisetouw, salah satu pendiri Yayasan Gerbang Terang Timur yang mengelola TK NangMora, saat diwawancarai jurnalis PapuaNet.com, usai mengikuti perayaan HAN ke-42 tahun 2026 di Mimika, Kamis 23 Juli 2026. Foto: Namsa A/PapuaNet.com

“Saat ini kami memiliki anak-anak dari Suku Amungme, Kamoro, Mee, Moni, hingga enam suku lainnya di Mimika. Kami tidak menutup diri, justru kami sangat senang bisa bersatu dalam mencerdaskan anak bangsa melalui sektor pendidikan,” tambah Yohana.

Perjuangan ‘Pintu ke Pintu’ Menuju Kemenangan Besar

Yohana menuturkan, perjalanan selama enam tahun ini dipenuhi tantangan yang tidak mudah. Pada awal berdirinya sekolah, tim pendiri harus berkeliling dari rumah ke rumah untuk menjelaskan kepada masyarakat mengenai apa itu PAUD dan manfaatnya bagi masa depan anak. Respons awal masyarakat pun beragam.

“Banyak orang tua menganggap pendidikan usia dini tidak penting. Kebiasaan lama mereka adalah langsung mengirim anak ke asrama—seperti Sekolah Taruna Papua atau Asrama Tomain—tanpa memikirkan persiapan dasar dari rumah. Kami harus sabar menjelaskan berulang kali,” ungkapnya.

Namun, benih kesabaran yang ditanam perlahan berbuah nyata. Perubahan paling berharga yang dirasakan pihak yayasan saat ini adalah pergeseran sikap dari para orang tua murid.

“Dulu kami yang datang mengajak ke rumah-rumah. Sekarang, orang tua sendiri yang bangun pagi, menyiapkan keperluan anak, mengantar ke sekolah, dan menjemputnya saat pulang. Mereka kini sadar bahwa anak adalah tanggung jawab keluarga, bukan sekadar diserahkan ke pihak lain. Bagi orang luar mungkin hal ini biasa, tapi bagi kami di sini, ini adalah sebuah kemenangan besar,” tegas Yohana.

Kerja Sama dengan YPMAK  

Berkat konsistensi yang ditunjukkan, TK NangMora kini dipercaya membangun kerja sama strategis dengan Yayasan Pemberdayaan Suku Amungme dan Kamoro (YPMAK). Sinergi ini membuka peluang emas bagi masa depan anak-anak di pedalaman Mimika.

“Kami dipercaya untuk membantu mempersiapkan anak-anak agar kelak bisa diterima di Sekolah Taruna Papua. Ini merupakan kesempatan berharga bagi putra-putri daerah untuk melanjutkan pendidikan dengan bimbingan dan fasilitas yang baik,” terangnya.

Perdana Ikut Perayaan Hari Anak Nasional

Tahun 2026 menjadi momen istimewa dan bersejarah bagi TK NangMora. Untuk pertama kalinya, sekolah ini turut serta dalam parade perayaan Hari Anak Nasional yang digelar oleh Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) se-Kabupaten Mimika.

“Selama enam tahun kami ingin ikut, namun selalu tertunda karena fokus mempersiapkan kesadaran orang tua terlebih dahulu. Tahun ini berbeda—orang tua sendiri yang berinisiatif menyiapkan anak agar bisa bergabung dalam karnaval. Anak-anak sangat antusias. Mereka bisa melihat langsung bahwa yang bersekolah itu tidak hanya mereka saja, melainkan ada banyak teman dari berbagai latar belakang yang sama-sama menuntut ilmu,” cerita Yohana.

Kegiatan karnaval ini sekaligus membawa pesan mendalam bahwa pendidikan merupakan jembatan persatuan yang kokoh antar-suku dan budaya di Kabupaten Mimika.Menutup perbincangan, Yohana menyampaikan harapan besar bagi keberlanjutan program pendidikan di TK NangMora.

“Kami tidak akan berhenti di sini. Perubahan kesadaran orang tua adalah langkah awal yang paling penting. Pendidikan yang kokoh dimulai dari usia dini, bermula dari kasih sayang keluarga, dan tumbuh bersama dukungan masyarakat. Semoga apa yang kami bangun ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain, dan semoga anak-anak Mimika kelak tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, serta mencintai tanah kelahirannya,” pungkas Yohana.(Namsa A)

- Advertisement -

Pilihan Editor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru

penghargaan nasional