TIMIKA, PapuaNet.com – Peringatan yubileum setengah abad atau Tahun Emas 50 Tahun Mapurujaya, Distrik Mimika Timur, yang menyisakan waktu 15 hari lagi menuju 19 Agustus 2026 mendatang, kini berada dalam sorotan tajam.
Anggota DPRK Mimika dari Partai Perindo, Rampeani Rachman, S.Pd., secara blak-blakan menyebut persiapan dari Pemerintah Distrik Mimika Timur (Miktim) masih ZONK alias tanpa aksi nyata di lapangan.
Hingga hari Selasa, 4 Agustus 2026, Srikandi legislatif dari Daerah Pemilihan (Dapil) 6 ini mengaku sangat prihatin. Momentum sakral yang sangat dinantikan oleh seluruh lapisan masyarakat Mimika Timur tersebut justru terancam hambar karena lambatnya pergerakan birokrasi distrik.
Kepada jurnalis PapuaNet.com, Rampeani membongkar bahwa Pemerintah Distrik Miktim sebenarnya telah menyiapkan anggaran fantastis sekitar Rp700 juta untuk mendukung dua agenda besar nasional, yakni peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun 2026 dan Tahun Emas 50 Tahun Mapurujaya. Namun, fakta di lapangan justru berbanding terbalik dengan besarnya anggaran.
“Saya melihat sampai tanggal 4 Agustus ini belum ada pergerakan dan perkembangan nyata persiapan. Padahal HUT Mapurujaya adalah momentum emas yang ditunggu masyarakat Mimika Timur. Jangan sampai masyarakat merasa tidak diikutkan dalam kesempatan menikmati perayaan yang selama ini menjadi momen kebersamaan,” tegas Rampeani dengan nada geram, Selasa 4 Agustus 2026.
Lebih lanjut kata Rampeani, sebagai Anggota Komisi III DPRK Mimika yang membidangi pengawasan, ia mengaku tidak tinggal diam. Ia langsung melakukan komunikasi silang dengan Ketua Panitia Pelaksana untuk mencari tahu titik sumbat masalah.
Hasilnya mengejutkan; panitia mengaku lumpuh dan tidak bisa mengeksekusi program kerja karena belum menerima kepastian maupun pencairan anggaran dari pihak distrik.
“Saya sudah tanya kepada ketua panitia. Mereka menyampaikan sampai sekarang belum ada dukungan yang benar-benar bisa digunakan untuk menjalankan seluruh rangkaian kegiatan. Saya sendiri belum mengetahui secara pasti di mana letak kendalanya,” beber Rampeani heran.
Ia menegaskan bahwa sukses atau gagalnya agenda besar ini tidak bisa dibebankan kepada panitia semata, melainkan bertumpu pada jiwa kepemimpinan Kepala Distrik yang seharusnya hadir sebagai penggerak utama.
“Panitia memang sudah dibentuk, tetapi kepala distrik harus hadir sebagai motor penggerak. Kalau pimpinan memberikan semangat, arahan, dan solusi, saya yakin panitia akan bekerja lebih maksimal,” cetusnya lagi.
Bagi Rampeani, mengabaikan Tahun Emas 50 Tahun Mapurujaya adalah bentuk ketidakpedulian terhadap sejarah. Mapurujaya—yang namanya berakar dari tokoh leluhur Tete Mapuru dan kata Jaya—merupakan satu dari tiga distrik tertua (bersama Kokonao dan Agimuga) yang menjadi cikal bakal berdirinya Kabupaten Mimika sejak ditetapkan pada 19 Agustus 1976.
Ia pun menyindir performa pemerintahan distrik saat ini dengan membandingkannya pada era kepemimpinan Kepala Distrik terdahulu. Di mana pesta rakyat seperti hiburan umum, lomba gerak jalan, karnaval, hingga festival budaya selalu hidup dan dinanti warga setiap tahunnya.
“Bukan soal acara yang mewah, tetapi masyarakat harus merasakan manfaatnya. Perlombaan, kegiatan adat, hiburan rakyat, dan ruang berkumpul seperti inilah yang selalu dinanti warga. Di situlah nilai kebersamaan benar-benar terasa,” ujarnya.
Di akhir wawancara, Srikandi Perindo ini mendesak Pemerintah Distrik Miktim untuk segera menyuntikkan dana dan membakar semangat panitia dalam sisa waktu 15 hari ini agar martabat wilayah bersejarah tersebut terselamatkan.
“Kita harus benar-benar mengangkat derajat Mimika Timur. Ini adalah distrik tua yang memiliki sejarah panjang bahkan sebelum Kabupaten Mimika terbentuk. Momentum 50 tahun jangan sampai berlalu tanpa makna. Pemerintah distrik harus menunjukkan kepemimpinan yang mampu menyatukan masyarakat dan menghadirkan perayaan yang berkesan,” tegasnya.(red)

