TIMIKA, PAPUANET.COM – Pekikan yel-yel kebanggaan bergemuruh membakar semangat puluhan pasang mata yang hadir dalam pertemuan akbar Anak-Anak Lahir Besar Mapurujaya (Labema). Bertempat di Lantai III Grand Tembaga Hotel Timika pada Sabtu (15/8/2026), momentum ini menjadi titik awal pergerakan besar Labema yang menyatakan siap mengguncang dan menyukseskan rangkaian perayaan HUT Emas 50 Tahun Mapurujaya.
“Labema, kami, anak-anak lahir dan besar Mapurujaya — Jaya, jaya, jaya, selalu di hati!” seru hadirin kompak dan penuh emosional, menyambut ajakan sang inisiator kegiatan, Anggota DPRK Mimika Dapil 6, Hj. Rampeani Rachman, S.Pd.
“Hari ini kita hadir di sini karena kita merasa sebagai anak-anak Mapurujaya. Mari kita bergandengan tangan untuk menyukseskan HUT Emas 50 Tahun Mapurujaya,” buka Hj. Rampeani, yang disambut tepuk tangan riuh.
Rangkaian Acara: Dari Karnaval Budaya hingga Pesta Rakyat
Untuk memeriahkan usia emas ini, Labema telah menyusun rangkaian agenda besar yang melibatkan masyarakat luas. Perhelatan akan diawali dengan Karnaval Budaya pada Selasa, 18 Agustus 2026, yang akan menampilkan kekayaan tradisi dan pluralisme di Mimika.
Sementara itu, puncak kegembiraan masyarakat berupa Pesta Rakyat di Pelabuhan Pomako dipastikan bakal digelar pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
Hj. Rampeani mengingatkan bahwa perayaan masif setengah abad ini dirancang karena Mapurujaya memegang nilai historis yang sangat sakral bagi peradaban Mimika.
“Kota Mapurujaya adalah kota tua—sudah ada sebelum Kabupaten Mimika berdiri. Ini kebanggaan kita bersama. Tuhan sudah memberikan rezeki, tinggal kita bahu-membahu agar sukses bersama,” tegas srikandi Perindo tersebut.
Melalui tema besar “Pesta Rakyat Bersama Anak-anak Labema”, gerakan ini murni lahir dari kerinduan mendalam putra-putri daerah untuk mengabdi pada tanah leluhur. Merespons berbagai asumsi, Hj. Rampeani meluruskan bahwa aksi mereka di Pelabuhan Pomako nanti murni merupakan ekspresi kultural dan sosial warga, bukan gerakan politik ataupun tandingan.
“Tidak ada sama sekali niat kita untuk membuat tandingan (kegiatan pemerintah). Ini hak seluruh warga Mapurujaya untuk memeriahkan hari ulang tahun emasnya,” cetusnya meluruskan.
Di akhir arahannya, ia meminta seluruh anak Labema yang kini telah sukses menjadi guru, tenaga kesehatan, pejabat, hingga anggota dewan, untuk menanggalkan ego status sosial dan bergerak swadaya tanpa mengandalkan proposal bantuan ke pihak luar.
“Jangan melihat karena jabatan atau kekayaan. Mari kita mengisi kekurangan satu sama lain. Kita ingin menunjukkan bahwa Labema itu mandiri, berdaya, dan bisa langsung memberikan manfaat riil bagi masyarakat luas,” tutup Hj. Rampeani optimistis. (red)

