21.9 C
Jayapura
Sun, 31 May 2026

Sambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia, DLH Mimika Lakukan Aksi Nyata dari Kampung, Sampah Bukan Musibah, Tapi Bernilai Ekonomis

Breaking News

PAPUANET.COM, TIMIKA – Menyambut peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia  (World Environment Day), PADA 5 Juni 2026, semangat perubahan mulai digaungkan dari wilayah kampung hingga pesisir. Tahun ini, peringatan tidak lagi terpusat di kota, melainkan menyasar langsung masyarakat akar rumput dengan misi besar dengan mengubah pola pikir tentang sampah yakni sampah kini bukan musibah tapi bernilai ekonomis.

Kepala Bidang PPKLH Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Mimika, Devota Maria Leisubun menegaskan, rangkaian kegiatan menuju puncak Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni akan dimulai sejak 22 Mei 2026 dengan pendekatan edukatif dan aksi nyata di lapangan.

“Selama ini masyarakat melihat sampah sebagai kotoran yang harus dibuang. Padahal sampah punya nilai ekonomis, bisa menjadi uang bahkan bisa ditukar dengan bahan makanan,” ujarnya saat ditemui wartawan PapuaNet.com, Selasa 19 Mei 2026.

Program ini kata dia, menjadi momentum baru karena untuk pertama kalinya kegiatan DLH digelar di luar pusat kota.

“Pemerintah ingin membangun kesadaran dari kampung menuju kota, agar masyarakat pesisir dan wilayah pinggiran ikut memahami pentingnya pengelolaan sampah dan pola hidup sehat,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan, berbagai bentuk sosialisasi telah dilakukan, mulai dari pembagian brosur, pemasangan spanduk, hingga penyebaran surat pemberitahuan ke sejumlah kampung seperti Pomako, Muare, dan wilayah sekitar lokasi kegiatan.

“Langkah ini dilakukan agar masyarakat mengetahui dan terlibat langsung dalam gerakan lingkungan tersebut,” ucapnya.

Dikatakan, kegiatan pada 22 Mei 2026 akan dikemas dalam bentuk jalan santai sambil memungut sampah plastik dan karton di sepanjang jalur yang telah dibagi menjadi tiga kelompok. Sampah yang terkumpul akan dibawa ke bank sampah untuk ditimbang dan ditukar menjadi uang maupun kebutuhan pokok.

Gerakan ini diharapkan menjadi awal perubahan budaya masyarakat yang selama ini terbiasa membuang sampah sembarangan.

“Mulai besok masyarakat harus sadar bahwa sampah bukan untuk dibuang, tapi dikumpulkan karena punya nilai. Ini langkah kecil, tapi kami berharap ke depan menjadi kebiasaan besar,” tegas Devota.

Melalui gerakan ini, lanjut Devota, pemerintah ingin membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga gerakan bersama masyarakat demi masa depan yang lebih bersih, sehat, dan bernilai ekonomis. (G.Fakaubun)

- Advertisement -

Pilihan Editor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru